Dekat Dengan Allah, Jangan Jauh Dari Manusia ┃ Ustadz Abu Ubaid Rizqi, BA, M.Pd

- Alumnus LIPIA Jakarta
- Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Imam Bukhari
Menjaga Hablum Minallah dan Hablum Minannas: Bekal Meraih Keselamatan Dunia dan Akhirat
Pendahuluan: Mensyukuri Nikmat Majelis Ilmu
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, wabihi nasta‘īnu ‘alā umūrid-dunyā wad-dīn. Washshalātu wassalāmu ‘alā khairil-anbiyā’i wal-mursalīn, wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn, wa ‘alā man sāra ‘alā nahjihi ilā yaumid-dīn.
Allāhumma ‘allimnā mā yanfa‘unā, wanfa‘nā bimā ‘allamtanā, wa zidnā ‘ilman, yā Rabbal-‘ālamīn. Rabbisyraḥ lī ṣadrī, wa yassir lī amrī, waḥlul ‘uqdatan min lisānī yafqahū qaulī.
Amma ba‘du.
Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kitabullah, petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad ﷺ, perkara terburuk adalah perkara-perkara baru dalam agama, setiap bidah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan berada di dalam neraka.
Alhamdulillah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dalam majelis yang mulia ini. Majelis yang di dalamnya dibacakan ayat-ayat Allah dan dijelaskan sabda-sabda Rasulullah ﷺ. Tidak diragukan lagi bahwa majelis ilmu seperti ini termasuk majelis yang sangat berharga bagi seorang muslim.
Oleh karena itu, ada beberapa hal yang patut kita syukuri. Pertama, bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena telah memberikan kesempatan dan kemudahan kepada kita untuk hadir serta mempelajari agama-Nya.
Kedua, kita juga patut berterima kasih kepada tempat kita bekerja yang telah memberikan fasilitas untuk belajar agama. Tidak semua tempat kerja memberikan kesempatan seperti ini. Bahkan, di sebagian tempat, seorang karyawan mengalami kesulitan untuk melaksanakan salat tepat waktu. Padahal, salat merupakan kewajiban yang sangat agung setelah dua kalimat syahadat.
Alhamdulillah, di tempat ini bukan hanya salat yang difasilitasi, tetapi kegiatan mempelajari agama pun mendapatkan ruang dan dukungan. Kita diberikan waktu, ruangan yang nyaman, bahkan konsumsi untuk menunjang kegiatan tersebut.
Semua itu merupakan nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus bentuk kebaikan dari pihak perusahaan. Maka, syukurilah nikmat ini dan jangan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Ada orang yang memiliki inisiatif kuat untuk mendatangi majelis ilmu tanpa harus diajak. Namun, ada pula orang yang baru tergerak belajar ketika mendapatkan lingkungan dan kesempatan yang mendukung. Karena itu, ketika Allah menghadirkan kesempatan belajar melalui tempat kerja kita, manfaatkanlah sebaik-baiknya.
Kita berharap keadaan ini menjadi salah satu sebab Allah menghendaki kebaikan bagi kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
Artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memberikan pemahaman kepadanya tentang agama.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 71, dan Muslim, no. 1037.
Perhatikanlah hadis ini. Nabi ﷺ tidak mengatakan bahwa tanda Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang adalah ketika kariernya semakin sukses, hartanya semakin banyak, atau pengikut media sosialnya semakin besar. Beliau justru menyebutkan pemahaman agama.
Sebab, ketika seseorang memahami agama, dia mengetahui apa yang harus dilakukan sebagai seorang mukmin, apa yang wajib ditinggalkan, dan bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah. Pemahaman agama menjadi bekal penting untuk menjaga diri dari kemurkaan Allah dan azab neraka.
Menjaga Diri dan Keluarga dari Neraka
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).
Bagaimana cara menjaga diri dan keluarga dari neraka? Kita tidak cukup hanya membaca ayat tersebut tanpa memahami penjelasan para ulama.
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa maksud menjaga keluarga adalah mengajari mereka dan mendidik mereka. Penjelasan ini disebutkan dalam kitab tafsir, di antaranya Tafsir ath-Thabari ketika menafsirkan QS. At-Tahrim ayat 6.
Dengan demikian, menjaga diri dari neraka dilakukan dengan mempelajari agama dan mengamalkannya. Adapun menjaga keluarga dilakukan dengan mengajarkan agama kepada mereka: apa yang menjadi kewajiban mereka, apa yang dilarang Allah, dan bagaimana menjalani kehidupan sesuai tuntunan syariat.
Apabila kita belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengajarkan agama secara langsung, setidaknya kita berusaha mengarahkan keluarga agar mendapatkan pendidikan agama yang baik, menghadiri majelis ilmu, dan belajar kepada orang yang berilmu.
Majelis ilmu adalah tempat seseorang memperoleh pengetahuan agama berdasarkan Al-Qur’an dan sunah Rasulullah ﷺ. Setelah mengikuti majelis tersebut, semestinya ada pemahaman baru yang diperoleh dan dapat diamalkan.
Karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap majelis yang hanya berisi cerita-cerita khurafat, tahayul, atau kisah yang tidak jelas sumbernya. Jangan sampai sesuatu disebut majelis ilmu, padahal tidak memberikan pemahaman agama yang benar.
Dalam urusan agama, perkataan siapa pun harus ditimbang dengan dalil. Ustaz, guru, orang tua, dan siapa pun selain Rasulullah ﷺ tidaklah ma‘shum dari kesalahan. Apabila perintah seseorang bertentangan dengan perintah Allah, tidak boleh ditaati dalam perkara tersebut.
Namun, ketidaktaatan dalam perkara maksiat bukan berarti kita boleh merendahkan atau memperlakukan orang tersebut dengan buruk. Kita tetap menjaga adab, terlebih kepada orang tua dan guru.
Surah Al-‘Asr: Dua Hubungan yang Harus Dijaga
Salah satu dalil penting tentang hubungan seorang muslim dengan Allah dan sesama manusia adalah Surah Al-‘Asr.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” QS. Al-‘Asr [103]: 1–3.
Allah bersumpah dengan masa. Allah berhak bersumpah dengan makhluk-Nya sesuai kehendak-Nya, sebagaimana dalam ayat lain Allah bersumpah dengan waktu duha, matahari, dan malam. Adapun manusia tidak boleh bersumpah dengan nama selain Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ حَالِفًا فَلْيَحْلِفْ بِاللَّهِ أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa hendak bersumpah, hendaklah dia bersumpah dengan nama Allah atau diam.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 2679, dan Muslim, no. 1646.
Dalam riwayat lain disebutkan:
مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ
Artinya: “Barang siapa bersumpah dengan nama selain Allah, sungguh dia telah melakukan kekufuran atau kesyirikan.”
Sumber: HR. Abu Dawud, no. 3251, dan at-Tirmidzi, no. 1535. Redaksi dan penomoran dapat berbeda menurut edisi.
Hadis tersebut merupakan peringatan agar kita tidak menganggap ringan sumpah dengan nama makhluk, seperti bersumpah demi Rasul, demi benda, atau demi sesuatu selain Allah. Adapun penetapan hukum terhadap orang tertentu memerlukan perincian dan tidak boleh dilakukan secara serampangan.
Kembali kepada Surah Al-‘Asr, Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang memiliki empat sifat:
- Beriman kepada Allah.
- Mengerjakan amal saleh.
- Saling menasihati dalam kebenaran.
- Saling menasihati dalam kesabaran.
Dua sifat pertama berkaitan dengan keimanan dan pengamalan agama. Dua sifat berikutnya menunjukkan pentingnya hubungan dengan sesama manusia.
Inilah yang sering disebut sebagai hablum minallah dan hablum minannas. Istilah ini membantu kita memahami dua sisi penting kehidupan seorang muslim: menjaga hubungan dengan Allah melalui iman dan ibadah, serta menjaga hubungan dengan sesama melalui nasihat, kepedulian, dan akhlak yang baik.
Jangan Gengsi Ketika Diingatkan
Allah memerintahkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran. Karena itu, ketika seseorang mengingatkan kesalahan kita, jangan langsung menganggapnya sedang menjatuhkan harga diri.
Jangan sampai kita menjadi orang yang antinasihat, bahkan ketika kesalahan kita sudah jelas. Kita justru mencari pembenaran dan merasa diri sebagai korban.
Manusia memiliki keterbatasan dalam melihat kesalahannya sendiri. Kita sering lebih mudah melihat kekurangan orang lain daripada kekurangan diri sendiri. Oleh sebab itu, kita membutuhkan orang lain untuk mengingatkan kita, sebagaimana mereka juga membutuhkan nasihat dari kita.
Dalam ceramah ini, pemateri menyebutkan sebuah perkataan yang masyhur dinisbatkan kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي
Artinya: “Semoga Allah merahmati seseorang yang menunjukkan kepadaku kekurangan-kekuranganku.”
Perkataan ini mengandung pelajaran yang baik: orang yang tulus mengingatkan kesalahan kita bisa menjadi sebab perbaikan diri. Namun, penisbatan redaksi tersebut kepada Umar tidak dapat dipastikan dari sumber primer yang kuat hanya berdasarkan informasi dalam transkrip.
Tentu saja, orang yang menasihati juga harus memperhatikan adab. Nasihat hendaknya disampaikan dengan santun dan bijaksana, bukan untuk mempermalukan seseorang di hadapan orang banyak.
Surah At-Taubah Ayat 71: Saling Menguatkan dalam Kebaikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ أُولَٰئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya:
“Orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, serta menaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Sumber: QS. At-Taubah [9]: 71.
Ayat ini menjelaskan beberapa sifat orang beriman. Mereka saling menguatkan, mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan menaati Allah serta Rasul-Nya.
Amar makruf nahi mungkar tidak selalu berupa tindakan besar. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya sangat banyak:
- Mengingatkan teman agar bergegas salat ketika azan telah berkumandang.
- Mengingatkan seseorang agar makan dan minum menggunakan tangan kanan.
- Menasihati teman yang melakukan kesalahan dengan cara yang baik.
- Mengajak keluarga melaksanakan kewajiban agama.
- Mencegah kebiasaan buruk dengan nasihat yang sesuai kemampuan.
Amar makruf nahi mungkar tidak boleh dipahami sebagai tindakan semena-mena, perusakan, atau mempermalukan orang. Pelaksanaannya memiliki aturan dan batasan dalam syariat, termasuk memperhatikan kemampuan, kemaslahatan, serta akibat dari tindakan tersebut.
Kelembutan dalam Berdakwah
Salah satu contoh kelembutan dalam berdakwah adalah perintah Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam ketika menghadapi Fir’aun.
Allah berfirman:
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha [20]: 44).
Fir’aun adalah orang yang mengaku sebagai tuhan tertinggi. Allah berfirman tentang perkataannya:
فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Lalu dia berkata, ‘Akulah tuhanmu yang paling tinggi.’”(QS. An-Nazi‘at [79]: 24).
Meskipun menghadapi orang yang sangat melampaui batas, Nabi Musa dan Nabi Harun tetap diperintahkan menggunakan perkataan yang lembut. Hal ini menunjukkan pentingnya kelembutan dalam dakwah.
Jika menghadapi Fir’aun saja Allah memerintahkan kelembutan, maka terhadap saudara-saudara muslim yang masih memiliki banyak kebaikan, kita lebih patut memperhatikan adab dan kelembutan ketika menasihati mereka.
Rasulullah ﷺ juga memberikan contoh ketika seorang Arab badui buang air kecil di masjid. Para sahabat ingin menghentikannya, tetapi Nabi ﷺ bersabda:
دَعُوهُ
Artinya: “Biarkanlah dia.”
Setelah orang tersebut selesai, Nabi ﷺ menjelaskan bahwa masjid bukan tempat untuk buang air kecil, melainkan tempat berzikir, salat, dan membaca Al-Qur’an. Kemudian beliau memerintahkan agar bagian yang terkena najis dibersihkan.
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 221, dan Muslim, no. 284.
Sikap Nabi ﷺ mengajarkan bahwa kesalahan perlu diperbaiki, tetapi cara memperbaikinya harus mempertimbangkan keadaan orang yang dinasihati. Tidak semua kesalahan harus dihadapi dengan kemarahan dan tindakan reaktif.
Surah An-Nisa Ayat 36: Beribadah kepada Allah dan Berbuat Baik kepada Sesama
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Sumber: QS. An-Nisa’ [4]: 36.
Ayat ini memadukan perintah beribadah kepada Allah dengan perintah berbuat baik kepada banyak golongan manusia.
1. Beribadah Hanya kepada Allah
Perintah pertama adalah menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Seorang muslim wajib memurnikan ibadahnya hanya kepada Allah, termasuk dalam doa dan permohonan yang merupakan ibadah.
2. Berbuat Baik kepada Kedua Orang Tua
Setelah memerintahkan tauhid, Allah menyebutkan kewajiban berbuat baik kepada kedua orang tua. Kedudukan mereka sangat tinggi sehingga seorang anak harus menjaga ucapan, sikap, dan perilakunya terhadap mereka.
3. Memperhatikan Kerabat dan Anak Yatim
Berbuat baik juga harus diberikan kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin.
Anak yatim adalah anak yang kehilangan ayahnya karena meninggal dunia sebelum mencapai usia balig. Ketika telah balig, status yatim dalam pengertian fikih tersebut berakhir, meskipun kebutuhan dan hak sosialnya tetap perlu diperhatikan.
Allah berfirman:
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
Artinya: “Terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.” (QS. Ad-Duha [93]: 9).
Seorang anak yatim mungkin tumbuh dengan keadaan emosional dan kebutuhan yang berbeda karena kehilangan sosok ayah. Karena itu, kita tidak boleh memperlakukannya dengan kasar atau merendahkannya.
Dalam sebuah hadis tentang keutamaan menyayangi anak yatim, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا
Artinya: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini.”
Beliau kemudian mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan sedikit keduanya.
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 6005.
Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan mengasuh dan memperhatikan anak yatim.
4. Berbuat Baik kepada Tetangga
Tetangga memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik. Jangan sampai kita rajin beribadah, tetapi mengganggu orang yang tinggal di sekitar kita.
Gangguan terhadap tetangga dapat berupa perkataan yang menyakitkan, suara yang berlebihan, asap pembakaran sampah, atau perilaku lain yang mengganggu kenyamanan mereka.
Bahkan kegiatan yang pada dasarnya baik tetap harus memperhatikan hak orang lain. Memutar bacaan Al-Qur’an dengan pengeras suara yang mengganggu tetangga, misalnya, tidak otomatis menjadi benar hanya karena yang diputar adalah bacaan Al-Qur’an.
Kita perlu memperhatikan waktu, volume, dan keadaan orang-orang di sekitar kita.
5. Berbuat Baik kepada Orang yang Bekerja untuk Kita
Ayat tersebut juga menyebutkan hamba sahaya. Konteksnya adalah sistem perbudakan yang dikenal pada masa itu, bukan pekerja rumah tangga modern yang bekerja berdasarkan hubungan kerja dan upah.
Islam memerintahkan perlakuan yang baik terhadap orang yang berada di bawah tanggung jawab seseorang. Prinsip ini menjadi pengingat bahwa kedudukan sosial tidak membenarkan kezaliman.
Orang yang bekerja untuk kita tetap memiliki hak untuk diperlakukan dengan adil, dihormati, dan tidak dirugikan.
Di akhir ayat, Allah mengingatkan bahwa Dia tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. Kesombongan dapat terlihat dari sikap yang merendahkan orang lain maupun ucapan yang menunjukkan keangkuhan.
Takwa kepada Allah dan Berakhlak Baik kepada Manusia
Rasulullah ﷺ bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”
Sumber: HR. at-Tirmidzi, no. 1987.
Hadis ini merangkum tiga prinsip penting:
- Menjaga hubungan dengan Allah melalui ketakwaan.
- Segera memperbaiki kesalahan dengan bertobat dan melakukan amal saleh.
- Menjaga hubungan dengan sesama manusia melalui akhlak yang baik.
Islam bukan agama yang mengajarkan seseorang menjadi saleh untuk dirinya sendiri tanpa memedulikan orang lain. Seorang muslim hendaknya berusaha menjadi saleh sekaligus muslih: memperbaiki dirinya dan, sesuai kemampuannya, mengajak orang lain menuju kebaikan.
Mengajak kebaikan tidak harus selalu melalui mimbar Jumat atau majelis taklim. Nasihat dapat disampaikan ketika berbincang, saat istirahat, atau dalam percakapan sederhana. Apabila memungkinkan, sampaikan secara pribadi agar orang yang dinasihati tidak merasa dipermalukan.
Bahaya Menyakiti Orang Lain dan Hak Sesama Manusia
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟
Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab bahwa orang bangkrut adalah orang yang tidak lagi memiliki harta benda. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan bahwa orang yang benar-benar bangkrut dari umatnya adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi selama hidupnya pernah mencela orang lain, menuduh orang lain, mengambil harta orang lain, menumpahkan darah, atau memukul orang lain.
Akibatnya, pahala-pahalanya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahalanya telah habis sebelum seluruh hak orang lain tertunaikan, dosa orang-orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya. Kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.
Sumber: HR. Muslim, no. 2581.
Hadis ini menunjukkan bahwa banyaknya ibadah tidak boleh membuat kita meremehkan hak sesama manusia. Jangan sampai seseorang rajin salat dan berpuasa, tetapi lisannya menyakiti orang lain, tangannya merugikan orang lain, atau hartanya diperoleh dengan cara yang zalim.
Karena itu, ketika mendengar hadis tentang orang yang bangkrut, jangan langsung mengarahkan pikiran kepada orang lain. Kita perlu memeriksa diri sendiri: adakah hak orang lain yang belum kita tunaikan, perkataan yang belum kita perbaiki, atau kesalahan yang belum kita minta maafkan?
Perbedaan Hak Allah dan Hak Manusia
Dalam ceramah ini, pemateri mengingatkan bahwa urusan dengan sesama manusia bisa menjadi perkara yang rumit karena orang yang dizalimi memiliki hak yang harus dihormati.
Tobat dari dosa kepada Allah harus memenuhi syarat-syaratnya, yaitu menyesali dosa, meninggalkannya, dan bertekad tidak mengulanginya. Apabila dosa tersebut berkaitan dengan hak manusia, hak itu juga harus diselesaikan sesuai ketentuannya, misalnya mengembalikan harta atau meminta maaf.
Orang yang dizalimi memiliki hak untuk menuntut keadilan sesuai syariat. Namun, membalas kezaliman tidak boleh melampaui batas.
Allah berfirman:
وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ
Artinya: “Jika kamu membalas, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.”
Sumber: QS. An-Nahl [16]: 126.
Meskipun demikian, memaafkan merupakan akhlak yang mulia apabila dilakukan dengan benar dan tidak menimbulkan kemudaratan yang lebih besar.
Karena itu, jangan bermudah-mudah menyakiti orang lain. Kita tidak mengetahui apakah orang yang kita sakiti akan memaafkan kita atau menuntut haknya kelak.
Berhati-hati dalam Urusan Utang
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
Artinya: “Penundaan pembayaran utang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 2400, dan Muslim, no. 1564.
Utang merupakan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Orang yang mampu membayar tidak boleh sengaja menunda-nundanya tanpa alasan yang dibenarkan.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang terbunuh di jalan Allah mendapatkan ampunan atas banyak dosa, tetapi utang tetap menjadi perkara yang harus diselesaikan.
Sumber: HR. Muslim, no. 1886.
Karena itu, jangan menganggap ringan utang. Jangan sampai seseorang mampu membeli barang-barang mahal untuk dirinya, tetapi terus menunda pembayaran kewajibannya kepada orang lain.
Bahaya Lisan dan Pentingnya Menjaga Tetangga
Rasulullah ﷺ memperingatkan tentang orang yang rajin beribadah, tetapi menyakiti tetangganya dengan lisannya.
Dalam riwayat yang masyhur, beliau ditanya tentang seorang perempuan yang banyak salat, puasa, dan bersedekah, tetapi menyakiti tetangganya. Beliau menjawab bahwa perempuan tersebut berada dalam neraka. Beliau juga ditanya tentang perempuan yang ibadah sunahnya tidak sebanyak perempuan pertama, tetapi tidak menyakiti tetangganya. Beliau menjelaskan bahwa perempuan tersebut termasuk penghuni surga.
Sumber: HR. Ahmad dalam al-Musnad; riwayat ini dikenal dengan pembahasan tentang perempuan yang menyakiti tetangganya. Nomor hadis dan rincian sanad perlu disesuaikan dengan edisi yang digunakan.
Pelajarannya adalah ibadah yang banyak tidak membenarkan perilaku buruk kepada sesama manusia. Seorang muslim perlu menjaga keduanya: ibadah kepada Allah dan akhlak kepada manusia.
Rasulullah ﷺ juga menceritakan perempuan yang diazab karena mengurung seekor kucing tanpa memberinya makan dan minum sampai mati. Sebaliknya, terdapat kisah seseorang yang mendapatkan ampunan karena memberi minum seekor anjing yang kehausan.
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 3318 dan 3321; Muslim, no. 2242 dan 2245, dengan perincian riwayat masing-masing.
Hal ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan kasih sayang kepada makhluk Allah. Hewan peliharaan harus dirawat dengan baik. Apabila seseorang tidak sanggup memenuhi kebutuhannya, jangan memeliharanya hanya untuk kemudian menelantarkannya.
Menjaga Hubungan dengan Pasangan
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Artinya: “Apabila seorang perempuan melaksanakan salat lima waktunya, berpuasa pada bulannya, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu mana pun yang engkau kehendaki.’”
Sumber: HR. Ahmad dalam al-Musnad; hadis ini diriwayatkan melalui beberapa jalur dengan pembahasan penilaian sanad di kalangan ahli hadis.
Hadis ini menjelaskan keutamaan seorang perempuan yang menjaga kewajiban kepada Allah dan menunaikan hak suaminya dalam perkara yang makruf. Ketaatan kepada suami tidak berlaku dalam kemaksiatan kepada Allah.
Gambaran masuk surga dari pintu mana pun menunjukkan kemuliaan yang besar. Kenikmatan surga jauh melampaui apa yang mampu dibayangkan manusia.
Allah berfirman dalam hadis qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
Artinya: “Aku telah menyiapkan bagi hamba-hamba-Ku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 3244, dan Muslim, no. 2824.
Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan, menjaga hubungan dengan Allah, dan menunaikan hak orang-orang terdekatnya.
Tanda Keimanan: Mencintai Kebaikan bagi Orang Lain
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Artinya: “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 13, dan Muslim, no. 45.
Hadis ini mengajarkan agar kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Jika kita ingin dimaklumi ketika melakukan kesalahan, belajarlah memaklumi kesalahan orang lain. Jika kita senang mendapatkan prasangka baik, berusahalah berprasangka baik kepada orang lain selama ada alasan yang membenarkannya.
Jangan sampai kita menginginkan orang lain bersikap ramah kepada kita, tetapi kita sendiri tidak mampu bersikap ramah kepada mereka.
Keimanan yang baik semestinya mendorong seseorang untuk menjauhi kezaliman. Ketika hendak berbicara atau bertindak, seorang mukmin perlu mempertimbangkan apakah ucapannya menyakiti orang lain dan apakah tindakannya merugikan hak orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
Sumber: QS. Qaf [50]: 18.
Allah juga berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
Sumber: QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8.
Tidak ada amal yang luput dari pengetahuan Allah. Karena itu, jangan meremehkan perkataan atau perbuatan sekecil apa pun.
Hak Tetangga dan Kewajiban Menjaga Ucapan
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah dia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.”
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 6018, dan Muslim, no. 47, dengan variasi redaksi pada sebagian riwayat.
Hadis ini memberikan tiga pedoman utama:
- Jangan menyakiti tetangga.
- Muliakan tamu.
- Berkatalah yang baik atau diam.
Menyakiti tetangga bisa terjadi melalui banyak hal, termasuk suara yang terlalu keras, membakar sampah hingga asapnya mengganggu, atau perilaku lain yang mengurangi kenyamanan mereka.
Bahkan sebelum melakukan kegiatan yang berpotensi mengganggu, kita dapat memberi tahu tetangga dan meminta pengertian mereka. Sikap seperti ini merupakan bagian dari akhlak yang baik.
Adapun menjaga lisan, diam terkadang lebih aman daripada berbicara tanpa pertimbangan. Namun, diam bukan berarti meninggalkan kewajiban menyampaikan kebenaran ketika memang diperlukan. Prinsipnya, seorang muslim berusaha berbicara dengan baik, benar, dan bermanfaat.
Dengan demikian, menjaga hubungan dengan Allah harus berjalan bersama usaha menjaga hubungan dengan sesama manusia. Inilah di antara bekal penting untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Tanya Jawab
Pertanyaan 1: Bagaimana menyikapi orang yang membalas kebaikan kita dengan keburukan?
Pertanyaan:
Jika kita sudah berusaha berbuat baik kepada seseorang, tetapi orang tersebut justru membalas dengan keburukan, bagaimana sikap yang benar menurut Islam?
Jawaban:
Tetaplah berusaha berbuat baik selama hal itu masih memungkinkan dan tidak menimbulkan kemudaratan yang lebih besar. Mengapa? Karena kita berbuat baik bukan semata-mata agar orang lain membalas kebaikan kita, melainkan karena Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik.
Jika motivasi kita adalah mencari keridaan Allah, kita tidak akan terlalu bergantung pada respons manusia. Kita menyadari bahwa kewajiban kita adalah berusaha menjalankan perintah Allah, sedangkan sikap orang lain berada di luar kendali kita.
Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Seorang suami hendaknya berbuat baik kepada istrinya karena Allah memerintahkannya. Demikian pula seorang istri berusaha menunaikan hak suaminya karena Allah memerintahkannya. Jangan sampai kebaikan dilakukan hanya dengan harapan mendapatkan balasan yang sama.
Jika seseorang telah berbuat baik, tetapi orang yang dihadapinya tidak membalas dengan baik, tentu ada kemungkinan dia merasa sedih. Namun, jangan sampai kesedihan tersebut berkembang menjadi kekecewaan yang berkepanjangan karena seluruh harapannya bergantung pada manusia.
Kita tidak bisa mengatur pikiran, perasaan, dan sikap setiap orang. Yang dapat kita upayakan adalah memperbaiki niat dan tindakan kita sendiri.
Pelajaran dari Kisah Nabi Ibrahim dan Hajar
Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam meninggalkan Hajar dan putranya, Ismail, di lembah yang tandus di dekat Baitullah, Hajar bertanya mengapa mereka ditinggalkan di tempat yang tidak memiliki tanaman dan penduduk.
Ketika Hajar mengetahui bahwa tindakan tersebut merupakan perintah Allah, dia berkata:
إِذًا لَا يُضَيِّعُنَا
Artinya: “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami.”
Kisah ini disebutkan dalam hadis panjang tentang Nabi Ibrahim, Hajar, dan pembangunan Baitullah.
Sumber: HR. al-Bukhari, no. 3364.
Pelajarannya, apabila kita menjalankan perintah Allah, jangan mengira bahwa kita akan ditelantarkan oleh-Nya. Namun, jangan pula menyangka bahwa semua balasan pasti datang seketika sesuai keinginan kita. Allah dapat memberikan balasan langsung atau menundanya sesuai hikmah-Nya.
Karena itu, teruslah berbuat baik kepada orang tua, anak, pasangan, teman, dan orang lain dengan niat mencari keridaan Allah. Apabila kebaikan kita dibalas dengan keburukan, evaluasilah keadaan dengan bijaksana. Kita tidak wajib membiarkan diri terus-menerus dizalimi, tetapi jangan pula membalas keburukan dengan kezaliman.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Pertanyaan 2: Bolehkah pemberi pinjaman menggunakan kendaraan yang dijaminkan?
Pertanyaan:
Apabila seseorang meminjam uang dan menjaminkan kendaraannya kepada pemberi pinjaman, apakah kendaraan tersebut boleh digunakan oleh pemberi pinjaman? Bagaimana jika kendaraan itu perlu dipanaskan atau dirawat selama masa jaminan?
Jawaban Ustaz
Apabila kendaraan dijadikan jaminan utang, pemberi pinjaman tidak boleh mengambil manfaat dari kendaraan tersebut sebagai keuntungan atas pinjaman. Penggunaan barang jaminan oleh pemberi pinjaman dapat menjadi manfaat yang disyaratkan atau diperoleh karena utang, sehingga berpotensi termasuk riba.
Karena itu, kendaraan yang dijaminkan pada prinsipnya tidak digunakan oleh pemberi pinjaman untuk kepentingannya sendiri.
Namun, kendaraan tetap memerlukan perawatan. Apabila perlu dipanaskan atau dirawat agar tidak rusak, hal tersebut hendaknya dilakukan sebatas kebutuhan pemeliharaan, bukan untuk mengambil manfaat dari kendaraan.
Biaya pemeliharaan yang memang menjadi tanggung jawab pemilik kendaraan perlu dibicarakan dengan jelas. Jika pemberi pinjaman mengeluarkan biaya yang semestinya menjadi tanggungan pemilik, penyelesaiannya harus dilakukan secara transparan dan tidak dijadikan keuntungan tambahan atas pinjaman.
Pertanyaan 4: Apakah berdosa menolak memberikan pinjaman kepada teman yang kemudian meminjam dari lembaga ribawi?
Pertanyaan:
Jika kita sebenarnya mampu memberikan pinjaman kepada seseorang, tetapi menolaknya karena khawatir terjadi masalah utang atau riba, lalu orang tersebut meminjam dari lembaga ribawi, apakah kita ikut menanggung dosanya?
Jawaban Ustaz
Keadaan tersebut perlu dibedakan berdasarkan alasan dan kemampuan masing-masing.
Jika seseorang dikenal tidak amanah dalam urusan utang, sering menunda pembayaran padahal mampu, atau memiliki riwayat yang membuat pemberi pinjaman khawatir uangnya tidak dikembalikan, seseorang boleh mempertimbangkan risiko tersebut sebelum memutuskan memberikan pinjaman.
Kita tidak otomatis menanggung dosa atas pilihan orang lain untuk mengambil pinjaman ribawi. Setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Namun, jika seseorang dikenal jujur dan amanah, benar-benar membutuhkan bantuan, sedangkan kita mampu menolong tanpa menelantarkan kebutuhan wajib kita sendiri, hendaknya kita mempertimbangkan untuk membantunya.
Jika kita tidak mampu memberikan pinjaman karena uang tersebut diperlukan untuk kebutuhan penting keluarga, misalnya biaya pendidikan anak, kita dapat menjelaskan keadaan tersebut dengan baik. Tidak semua penolakan berarti kekikiran atau kezaliman.
Intinya, keputusan harus mempertimbangkan kemampuan, amanah, dan keadaan yang sebenarnya. Jangan bermudah-mudah dalam berutang, tetapi jangan pula menuduh atau merendahkan orang yang sedang mengalami kesulitan.
Pertanyaan 5: Bolehkah seorang anak menjaga jarak dari orang tua yang sulit menerima nasihat?
Pertanyaan:
Apakah seorang anak boleh sedikit menjauh dari orang tua apabila setiap kali berinteraksi timbul rasa kesal atau benci? Anak merasa bahwa ketika mengingatkan orang tua, orang tua tersinggung karena menganggap anak seharusnya dididik oleh orang tua, bukan sebaliknya. Apakah menjaga jarak seperti itu termasuk durhaka?
Jawaban Ustaz
Pertama, perlu dibedakan antara menjaga jarak dan memutus hubungan.
Jika orang tua memiliki perilaku yang menyakitkan, misalnya sering mengucapkan kata-kata yang melukai hati atau melakukan tindakan yang buruk, seorang anak dapat mengatur jarak interaksi untuk mengurangi konflik dan menjaga dirinya. Menjaga jarak dalam keadaan seperti itu tidak otomatis berarti memutus silaturahmi.
Namun, jangan sampai menjaga jarak berubah menjadi pemutusan hubungan sama sekali. Tetaplah berusaha menjaga komunikasi, mengunjungi orang tua sesuai kemampuan, dan menunaikan kewajiban berbakti kepada mereka dengan cara yang memungkinkan.
Allah tetap memerintahkan seorang anak berbuat baik kepada orang tuanya, sekalipun orang tua memiliki kekurangan atau melakukan kesalahan. Berbakti bukanlah transaksi: orang tua baik kepada kita, lalu kita baik kepada mereka; jika mereka buruk, kita pun membalas dengan keburukan.
Kita berbuat baik kepada orang tua karena Allah memerintahkannya.
Jika Orang Tua Tidak Menerima Nasihat
Ada hal lain yang perlu diperhatikan. Apabila masalahnya hanya karena orang tua tidak menerima nasihat kita, jangan sampai hal itu membuat kita sakit hati, kecewa berkepanjangan, lalu menjauh dari mereka.
Tugas orang yang menasihati adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang baik. Kita tidak memiliki kemampuan untuk memastikan bahwa setiap nasihat pasti diterima.
Rasulullah ﷺ sendiri menghadapi banyak orang yang menolak dakwah beliau. Karena itu, ketika orang tua tidak menerima nasihat, seorang anak hendaknya tetap menjaga adab dan tidak menganggap dirinya gagal hanya karena nasihatnya belum diterima.
Sampaikan dengan santun, pilih waktu yang tepat, dan pertimbangkan cara penyampaian yang lebih mudah diterima. Jika nasihat belum diterima, tetaplah berbuat baik kepada orang tua dan berdoalah agar Allah memberikan hidayah kepada mereka.
Inilah bagian dari fikih dakwah: memahami bahwa tugas kita adalah menyampaikan nasihat dengan benar, sedangkan hidayah berada di tangan Allah.
Penutup
Menjaga hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia merupakan dua perkara yang harus diperhatikan oleh seorang muslim. Keimanan dan amal saleh harus diiringi dengan kepedulian terhadap hak orang lain, akhlak yang baik, serta kesungguhan dalam memperbaiki diri.
Jangan hanya berusaha menjadi orang yang rajin beribadah, tetapi juga berusaha menjadi orang yang amanah, menjaga lisan, tidak menyakiti tetangga, menghormati orang tua, dan memperlakukan orang lain dengan adil.
Apabila berbuat salah kepada Allah, segeralah bertobat. Apabila berbuat salah kepada manusia, berusahalah menyelesaikan haknya. Apabila menasihati, lakukan dengan hikmah. Dan apabila dinasihati, terimalah dengan lapang dada selama nasihat itu sesuai dengan kebenaran.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, serta mendapatkan rahmat-Nya di dunia dan akhirat.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.
Poster Ringkasan




