Adabul MufradKajian Rutin

Adabul Mufrah Bab 282 | Hadits ke-650/651/652: Do’a Memohon Perlindungan, Ampunan, Rezeki dan Umur Panjang

Bismillah
 
✒┃Materi : AL-ADAB AL-MUFRAD
✍🏼Karya :Imam Al-Bukhari Rahimahullah
🎙┃Narasumber : Ustadz Deka Mujahidin, S.Pdi  Hafidzahullah
▪ Alumnus STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya
▪ Dosen aktif di STAI JIC Jajar Surakarta
▪ Pengajar Ilmu Syar’i Pondok Pesantren Khulafaurrosyidin Cemani
📆┃Setiap Hari Ahad, Waktu Ba’da Maghrib – Isya’
🕌┃Tempat : 📍Masjid Al Firdaus Jaten Makamhaji Dusun III, Makamhaji, Kecamatan Kartasura



Al-Adab Al-Mufrad #650–652: Doa Memohon Perlindungan, Ampunan, Rezeki, dan Umur Panjang

Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wa bihi nasta‘inu ‘ala umurid-dunya wad-din. Washshalatu wassalamu ‘ala sayyidil mursalin, wa imamil muttaqin, wa qa’idil ghurril muhajjalin, nabiyyina Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Amma ba’du.

Para penuntut ilmu rahimakumullah, marilah kita senantiasa berzikir, bersyukur, dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai nikmat yang telah Dia karuniakan kepada kita. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kita untuk istiqamah dalam ketaatan hingga akhir hayat.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan pembahasan kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari. Sebelumnya, pembahasan telah sampai pada bab tentang doa seseorang terhadap orang yang menzaliminya. Kali ini kita melanjutkan hadis nomor 650 dan 651, kemudian masuk ke bab berikutnya tentang doa memohon umur panjang melalui hadis nomor 652.

1. Hadis ke-650: Do’a Memohon Nikmat Pendengaran dan Penglihatan serta Pertolongan Allah

Imam Al-Bukhari membawakan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa berikut.

Teks hadits:

اللَّهُمَّ مَتِّعْنِي بِسَمْعِي وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى عَدُوِّي، وَأَرِنِي مِنْهُ ثَأْرِي

Artinya:

“Ya Allah, berilah aku kenikmatan dengan pendengaran dan penglihatanku, jadikanlah keduanya tetap terpelihara hingga akhir hayatku, tolonglah aku dalam menghadapi musuhku, dan perlihatkanlah kepadaku balasan terhadapnya.”

Sumber: Al-Adab Al-Mufrad, hadis nomor 650, Kitab Ad-Du‘a, bab tentang doa seseorang terhadap orang yang menzaliminya.

A. Memohon agar pendengaran dan penglihatan tetap bermanfaat

Dalam doa ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon kepada Allah agar diberikan kenikmatan dan manfaat dari pendengaran serta penglihatan.

Kedua indra tersebut merupakan karunia Allah yang sangat besar. Dengan pendengaran, seseorang dapat mendengar nasihat, memahami ilmu, dan menyimak bacaan Al-Qur’an. Dengan penglihatan, seseorang dapat membaca, mengamati tanda-tanda kebesaran Allah, serta mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa.

Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak hanya bersyukur atas keberadaan kedua indra tersebut, tetapi juga memohon agar keduanya senantiasa bermanfaat dalam ketaatan kepada Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani agar kamu bersyukur.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah An-Nahl ayat 78.

Ayat ini mengingatkan kita bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan pemberian Allah yang seharusnya digunakan untuk bersyukur dan menaati-Nya.

B. Memohon agar pendengaran dan penglihatan tetap terpelihara hingga akhir hayat

Dalam doa tersebut terdapat kalimat:

وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي

Maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon agar pendengaran dan penglihatan tetap terpelihara dan berfungsi sampai akhir hayat.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan pendengaran dan penglihatan seseorang dapat mengalami penurunan. Ada orang yang ketika masih muda dapat melihat dengan jelas, tetapi ketika berusia lanjut penglihatannya mulai kabur. Begitu pula pendengaran yang semakin berkurang.

Oleh sebab itu, doa ini mengajarkan kita untuk memohon kesehatan dan kebermanfaatan anggota tubuh, bukan hanya ketika masih muda, melainkan juga ketika memasuki usia tua.

Nikmat kesehatan hendaknya digunakan untuk memperbanyak amal saleh selama Allah masih memberikan kesempatan.

C. Memohon pertolongan ketika menghadapi kezaliman

Bagian berikutnya berbunyi:

وَانْصُرْنِي عَلَى عَدُوِّي

Artinya, “Tolonglah aku dalam menghadapi musuhku.”

Seorang muslim boleh memohon pertolongan Allah ketika dizalimi. Apabila seseorang mengalami intimidasi, perlakuan tidak adil, atau gangguan terhadap haknya, ia boleh mengadukan keadaan tersebut kepada Allah dan memohon agar memperoleh pertolongan serta keadilan.

Hal ini bukan berarti seseorang boleh berbuat zalim sebagai balasan. Doa tersebut merupakan permohonan agar Allah menolong orang yang terzalimi dan memberikan keputusan yang adil.

Allah berfirman:

لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ ۚ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Artinya:

“Allah tidak menyukai perkataan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 148.

Ayat ini menunjukkan adanya pengecualian bagi orang yang dizalimi untuk mengungkapkan pengaduannya. Meskipun demikian, seorang muslim tetap harus menjaga batasan syariat dan tidak melampaui batas dalam membalas kezaliman.

D. Memohon agar diperlihatkan balasan terhadap orang yang menzalimi

Kalimat terakhir hadis tersebut adalah:

وَأَرِنِي مِنْهُ ثَأْرِي

Maksudnya, memohon agar Allah memperlihatkan balasan atas kezaliman yang dilakukan musuh.

Pembahasan ini menunjukkan bolehnya seseorang memohon keadilan kepada Allah ketika dirinya dizalimi. Akan tetapi, terdapat perbedaan antara mendoakan keburukan karena urusan pribadi dan mendoakan kebaikan bagi orang yang menyakiti kita.

Mendoakan kebaikan bagi orang yang menzalimi merupakan sikap yang lebih tinggi dan mulia apabila seseorang mampu melakukannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal memiliki kasih sayang dan mengharapkan kebaikan bagi manusia.

Adapun ketika kezaliman berkaitan dengan pelanggaran agama, seorang muslim tetap boleh memohon agar Allah menghentikan kezaliman tersebut dan memberikan keputusan yang adil.

Intinya, seorang muslim hendaknya mengembalikan urusan kepada Allah, tidak melakukan pembalasan secara melampaui batas, dan tidak menjadikan kebencian sebagai alasan untuk melakukan kezaliman baru.

2. Hadis ke-651: D’oa yang Menghimpun Kebaikan Dunia dan Akhirat

Berikutnya, Imam Al-Bukhari membawakan hadis dari Thariq bin Asyyam Al-Asyja‘i, dari ayahnya, bahwa mereka pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah tentang doa yang sebaiknya dibaca ketika salat. Beliau kemudian mengajarkan doa yang sangat ringkas, tetapi menghimpun permohonan penting bagi kehidupan seorang muslim.

Teks hadis:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي

“Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan karuniakanlah rezeki kepadaku.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَقَدْ جَمَعَتْ لَكَ دُنْيَاكَ وَآخِرَتَكَ

“Sesungguhnya doa tersebut telah menghimpun bagimu kebaikan dunia dan akhirat.”

Sumber: Al-Adab Al-Mufrad, hadis nomor 651, Kitab Ad-Du‘a.

Doa ini terdiri atas empat permohonan utama. Masing-masing mempunyai makna yang luas dan mencakup kebutuhan seorang hamba di dunia maupun di akhirat.

A. Allahummaghfir li — Ya Allah, ampunilah aku

Permohonan pertama adalah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Istigfar bukan sekadar ucapan lisan, melainkan permohonan agar Allah mengampuni dosa-dosa seorang hamba. Ampunan Allah juga mencakup permohonan agar keburukan dan aib ditutupi serta seorang hamba dilindungi dari akibat buruk dosa-dosanya.

Penjelasan ini dapat dipahami melalui makna kata maghfirah. Dalam penjelasan bahasa yang disampaikan penceramah, maknanya diibaratkan seperti pelindung kepala atau helm perang yang berfungsi menutupi sekaligus melindungi.

Demikian pula seorang hamba yang memohon ampunan kepada Allah. Ia berharap dosa-dosanya diampuni, aibnya ditutupi, dan dirinya dilindungi dari dampak buruk kemaksiatan.

Namun, hal ini bukan alasan untuk meremehkan dosa atau merasa aman ketika terus-menerus melakukan maksiat. Istigfar seharusnya disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut juga harus ditunaikan atau diselesaikan sesuai ketentuan syariat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

Artinya:

“Barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya sendiri, kemudian memohon ampun kepada Allah, niscaya dia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah An-Nisa ayat 110.

Dalam kajian ini juga dijelaskan bahwa dosa dapat memberikan pengaruh buruk terhadap hati. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak menunda-nunda tobat dan istigfar.

B. Warhamni — Rahmatilah aku

Permohonan kedua adalah meminta rahmat atau kasih sayang Allah.

Rahmat Allah merupakan kebutuhan setiap hamba. Manusia tidak dapat menjalani kehidupan dengan baik hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri. Ia membutuhkan pertolongan, bimbingan, perlindungan, dan kemudahan dari Allah.

Ketika seseorang mendapatkan rahmat Allah, ia mengharapkan ketenangan hati, kemudahan dalam menjalankan ketaatan, dan jalan keluar dari berbagai kesulitan.

Kehidupan dunia memang dipenuhi berbagai persoalan. Ada urusan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Semua itu terkadang menimbulkan kegelisahan. Karena itu, seorang muslim hendaknya memperbanyak doa dan memohon rahmat Allah, bukan semata-mata mengandalkan perhitungan manusia.

Rahmat Allah juga menjadi sebab seorang hamba memperoleh keselamatan dan masuk surga dengan karunia-Nya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ، فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ، وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا، وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Satu rahmat diturunkan di antara jin, manusia, hewan, dan makhluk lainnya. Dengan rahmat itu mereka saling menyayangi dan saling mengasihi. Dengannya pula hewan buas menyayangi anaknya. Sementara itu, Allah menangguhkan sembilan puluh sembilan rahmat untuk merahmati hamba-hamba-Nya pada hari kiamat.”

Sumber: Shahih Muslim, hadis nomor 2752c, Kitab At-Taubah, bab luasnya rahmat Allah.

Hadis tersebut menggambarkan betapa luasnya rahmat Allah. Kasih sayang yang kita saksikan di dunia merupakan bagian dari rahmat yang Allah karuniakan. Karena itu, jangan sampai seorang hamba berputus asa dari rahmat-Nya.

C. Wahdini — Berilah aku petunjuk

Permohonan ketiga adalah meminta hidayah dan bimbingan agar tetap berada di jalan yang benar.

Manusia membutuhkan petunjuk Allah dalam seluruh urusan hidupnya. Ia tidak cukup hanya mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga memerlukan pertolongan Allah agar mampu mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan.

Jiwa manusia dapat mendorongnya kepada keinginan yang tidak bermanfaat, kemalasan, dan perbuatan dosa. Seseorang mungkin mengetahui bahwa salat berjemaah itu utama, mencari ilmu itu penting, dan bekerja dengan cara halal merupakan kewajiban. Namun, pengetahuan tersebut belum tentu membuatnya selalu bersemangat mengamalkannya.

Karena itu, memohon hidayah harus menjadi kebiasaan. Kita memohon agar Allah membimbing hati, meluruskan niat, dan memudahkan anggota tubuh untuk melakukan ketaatan.

Allah berfirman:

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya:

“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah Yusuf ayat 53.

Ayat ini menjelaskan pentingnya rahmat dan pertolongan Allah dalam menghadapi dorongan jiwa yang mengarah kepada keburukan.

Hidayah juga diperlukan dalam mencari ilmu, memilih pekerjaan, bergaul dengan orang lain, dan menentukan keputusan hidup. Seorang muslim hendaknya tidak merasa cukup dengan pengetahuan yang dimilikinya, tetapi senantiasa memohon agar ditunjukkan kepada kebenaran.

D. Warzuqni — Berilah aku rezeki

Permohonan keempat adalah meminta rezeki kepada Allah.

Rezeki tidak terbatas pada uang dan harta. Rezeki dapat berupa kesehatan, keluarga yang baik, ilmu yang bermanfaat, teman yang mengajak kepada ketaatan, kesempatan beribadah, serta berbagai nikmat lain yang membantu seorang hamba menjalani kehidupan.

Seorang muslim hendaknya meminta rezeki yang halal dan baik, serta memohon keberkahan di dalamnya. Jangan sampai keinginan mendapatkan kekayaan membuat seseorang mengabaikan halal dan haram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya:

“Wahai manusia, makanlah sebagian dari makanan yang halal lagi baik yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 168.

Doa memohon rezeki harus berjalan bersama usaha yang benar. Seorang muslim tetap bekerja, berikhtiar, dan menunaikan tanggung jawabnya, sembari bertawakal kepada Allah.

E. Menghimpun kebutuhan dunia dan akhirat

Empat permohonan dalam hadis tersebut sangat ringkas, tetapi mencakup kebutuhan mendasar seorang hamba:

  1. Ampunan: agar dosa diampuni dan seorang hamba memperoleh keselamatan di akhirat.
  2. Rahmat: agar mendapatkan kasih sayang dan pertolongan Allah.
  3. Hidayah: agar mampu mengenali serta mengikuti kebenaran.
  4. Rezeki: agar memperoleh berbagai karunia yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan.

Hadis ini juga mengajarkan metode pendidikan yang baik. Rasulullah mengajarkan doa yang mudah dihafal dan dipahami. Prinsip ini dapat diterapkan ketika mendidik anak: mulailah dengan doa dan amalan yang sederhana, kemudian tingkatkan secara bertahap sesuai kemampuan.

Dalam berdoa, seseorang dapat memulai dengan permohonan yang menyeluruh, seperti ampunan, rahmat, hidayah, dan rezeki yang baik, sebelum merinci kebutuhan-kebutuhan lainnya.

3. Mencari Nafkah Keluarga Termasuk Amal yang Besar Pahalanya

Pembahasan tentang rezeki membawa kita pada tanggung jawab seorang muslim untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Bagi seorang suami yang memiliki tanggungan keluarga, mencari nafkah bukanlah urusan dunia yang terpisah dari agama. Menunaikan kewajiban kepada istri dan anak merupakan bagian dari tanggung jawab yang diperintahkan syariat.

Tidak tepat apabila seseorang mengabaikan nafkah keluarga dengan alasan ingin memperbanyak kegiatan ibadah sunah atau aktivitas lainnya, padahal ia mampu bekerja dan memiliki tanggungan yang harus dipenuhi.

Tentu saja, mencari nafkah harus dilakukan melalui cara yang halal. Banyaknya penghasilan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kehalalan, keberkahan, dan terpenuhinya tanggung jawab juga harus diperhatikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau gunakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau belanjakan untuk keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau belanjakan untuk keluargamu.”

Sumber: Shahih Muslim, hadis nomor 995; juga tercantum dalam Riyadhus Shalihin, hadis nomor 289.

Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan menafkahi keluarga. Pengeluaran untuk keluarga bukanlah sesuatu yang rendah nilainya. Bahkan, ketika dilakukan dengan niat yang benar, hal tersebut dapat menjadi amal yang sangat besar pahalanya.

Karena itu, seorang muslim hendaknya menyeimbangkan ibadah dan tanggung jawab. Ia tetap berusaha memperbanyak salat, zikir, dan menuntut ilmu, tetapi tidak mengabaikan kewajiban terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya.

Apabila kebutuhan keluarga telah dipenuhi, seseorang dapat memperluas amalnya dengan sedekah dan berbagai kebaikan lainnya sesuai kemampuan.

4. Kandungan Hadis ke-651

Dari hadis tersebut, ada beberapa pelajaran yang dapat diambil.

  1. Doa mencakup kebutuhan dunia dan akhirat. Seorang muslim hendaknya tidak hanya meminta kebutuhan materi, tetapi juga memohon ampunan, rahmat, dan petunjuk Allah.
  2. Ampunan dan rahmat Allah sangat penting. Keduanya merupakan kebutuhan mendasar bagi keselamatan seorang hamba.
  3. Hidayah harus senantiasa diminta. Seseorang tidak boleh merasa dirinya selalu benar atau tidak membutuhkan bimbingan.
  4. Rezeki harus dicari dengan cara yang halal. Keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya harta, tetapi juga dari cara memperolehnya.
  5. Pendidikan agama sebaiknya dimulai dari amalan yang mudah. Doa yang ringkas dan bermakna dapat diajarkan serta dibiasakan sejak dini.
  6. Menunaikan nafkah keluarga merupakan ibadah. Kewajiban keluarga tidak boleh diabaikan dengan alasan memperbanyak kegiatan lain.

5. Hadis ke-652: Doa Memohon Umur Panjang

Setelah membahas doa yang menghimpun kebaikan dunia dan akhirat, Imam Al-Bukhari masuk ke bab tentang orang yang berdoa agar diberi umur panjang.

Dalam hadis nomor 652, Ummu Qais radhiyallahu ‘anha disebutkan sebagai seorang perempuan yang memperoleh umur panjang.

Teks hadis:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، قَالَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي الْحَسَنِ مَوْلَى أُمِّ قَيْسِ ابْنَةِ مِحْصَنٍ، عَنْ أُمِّ قَيْسٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا: مَا قَالَتْ: طَالَ عُمْرُهَا؟، وَلَا نَعْلَمُ امْرَأَةً عُمِّرَتْ مَا عُمِّرَتْ

Terjemahan makna:

Diriwayatkan dari Ummu Qais bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan perkataan mengenai dirinya: “Apa yang diucapkannya, semoga panjang umurnya.” Perawi kemudian menyebutkan bahwa mereka tidak mengetahui perempuan lain yang diberi umur sepanjang umur Ummu Qais.

Sumber: Al-Adab Al-Mufrad, hadis nomor 652, bab tentang orang yang berdoa agar diberi umur panjang. Rujukan teks hadis.

A. Latar belakang kisah Ummu Qais

Dalam penjelasan yang disampaikan pada kajian, kisah ini dikaitkan dengan kesedihan Ummu Qais ketika salah seorang anaknya meninggal dunia. Sebagai seorang ibu, beliau tentu merasakan kesedihan yang mendalam atas kehilangan tersebut.

Riwayat yang disebutkan dalam kajian menceritakan bahwa Ummu Qais mengucapkan perkataan berkaitan dengan anaknya ketika anak tersebut dimandikan. Saudaranya kemudian menyampaikan peristiwa itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi tersenyum dan tidak langsung menyalahkan perkataan tersebut. Dalam penjelasan hadis, terdapat isyarat mengenai doa yang berkaitan dengan panjangnya umur Ummu Qais.

Kisah ini menunjukkan bahwa perasaan sedih seorang ibu ketika kehilangan anak merupakan sesuatu yang manusiawi. Namun, dalam menjelaskan rincian kisah tersebut, kita perlu membedakan redaksi hadis Al-Adab Al-Mufrad nomor 652 dari riwayat penjelas yang disebutkan dalam kajian.

B. Bolehkah berdoa agar diberi umur panjang?

Pada dasarnya, seseorang boleh memohon umur panjang kepada Allah. Akan tetapi, umur panjang bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Yang lebih penting ialah bagaimana umur tersebut digunakan.

Umur yang panjang dan dipenuhi ketaatan merupakan nikmat yang besar. Sebaliknya, panjang umur yang digunakan untuk terus melakukan kemaksiatan tidak sepatutnya menjadi tujuan seorang muslim.

Karena itu, ketika memohon umur panjang, seorang muslim hendaknya juga memohon kesehatan, taufik, dan kemampuan untuk memperbanyak amal saleh.

Ada riwayat yang menjelaskan keutamaan orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Riwayat tersebut dikenal dengan redaksi:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ

“Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya.”  [HR. Ahmad; Ibnu Hibbân; dan al-Baihaqi. Dishahihkan oleh al-Albâni dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, 3/312, no. 3361].

C. Memohon kehidupan yang baik dan kematian yang baik

Dalam sesi tanya jawab, dibahas pula doa agar seseorang diberikan kehidupan apabila kehidupan itu lebih baik baginya, dan diwafatkan apabila kematian lebih baik baginya.

Doa yang dimaksud adalah:

اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتِ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

“Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku.”

Doa ini tidak dimaksudkan sebagai anjuran agar seseorang mengharapkan kematian karena kesulitan dunia biasa. Seorang muslim hendaknya bersabar, berusaha mencari jalan keluar, dan memohon kebaikan kepada Allah.

Dalam kajian, penceramah menjelaskan bahwa pembahasan ini dapat berkaitan dengan keadaan yang sangat berat, seperti fitnah yang mengancam agama atau penderitaan yang berkepanjangan. Penjelasan tersebut perlu dipahami dengan tetap memperhatikan keseluruhan dalil dan ketentuan syariat.

6. Adab Berdoa dan Meminta Pertolongan kepada Allah

Dalam sesi tanya jawab, terdapat beberapa persoalan yang dibahas, di antaranya ucapan yang menyandarkan terkabulnya permohonan kepada alam semesta, interaksi antara laki-laki dan perempuan, serta doa terhadap orang yang menzalimi.

A. Berdoa hanya kepada Allah

Penceramah mengingatkan agar seorang muslim berhati-hati dengan ungkapan seperti “semoga semesta mengabulkan permohonan.” Alam semesta merupakan makhluk Allah dan tidak memiliki kekuasaan mandiri untuk mengabulkan doa.

Karena itu, hendaknya seorang muslim menyandarkan permohonan kepada Allah, dengan tetap melakukan sebab-sebab yang dibenarkan syariat.

Allah berfirman:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan memperkenankan bagimu.’”

Sumber: Al-Qur’an, Surah Ghafir ayat 60.

Adapun ungkapan “usaha tidak mengkhianati hasil” merupakan ungkapan umum tentang pentingnya berusaha. Namun, hasil akhir tetap berada dalam ketetapan Allah. Tidak setiap usaha menghasilkan sesuatu persis seperti yang diinginkan manusia.

B. Interaksi laki-laki dan perempuan dalam urusan ilmu

Dalam kajian juga dijelaskan bahwa perempuan pada masa Nabi datang untuk bertanya dan menyampaikan persoalan mereka. Interaksi untuk keperluan yang benar tidak otomatis terlarang, selama menjaga adab dan batasan syariat.

Di antara hal yang perlu diperhatikan adalah menghindari khalwat, yaitu berdua-duaan dengan lawan jenis di tempat yang memungkinkan terjadinya pelanggaran syariat. Pertemuan hendaknya berlangsung dengan cara yang aman, pantas, dan terjaga dari fitnah.

Penceramah juga mengingatkan pentingnya adab seorang guru atau tokoh agama ketika berinteraksi dengan murid dan masyarakat. Kedudukan sebagai pengajar agama menuntut tanggung jawab moral yang besar, bukan menjadi alasan untuk mengabaikan batasan syariat.

C. Sikap terhadap pemimpin dan orang yang menzalimi

Pada bagian akhir kajian, penceramah membedakan kezaliman yang menimpa seseorang secara pribadi dari persoalan yang berkaitan dengan sikap terhadap pemimpin.

Beliau menyampaikan prinsip yang dinisbatkan dalam kajian kepada manhaj Ahlus Sunnah, yaitu tidak menjadikan celaan dan doa keburukan kepada pemimpin sebagai kebiasaan. Adapun ketika seseorang dizalimi secara pribadi, ia boleh memohon pertolongan dan keadilan kepada Allah.

Pembahasan ini tidak berarti bahwa kezaliman harus dibiarkan. Seorang muslim tetap dapat mencari perlindungan, menuntut hak melalui cara yang benar, dan meminta agar kezaliman dihentikan.

Allah berfirman:

وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”

Sumber: Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 190.

Ayat tersebut mengingatkan bahwa membela diri dan memohon keadilan harus tetap berada dalam batasan yang dibenarkan. Jangan sampai seseorang yang awalnya menjadi korban kezaliman justru melakukan kezaliman baru.

7. Catatan Ungkapan dan Nasihat Ulama

Dalam kajian, penceramah menyampaikan sebuah ungkapan dalam bahasa Arab:

لَوْ كَانَ لِذُنُوبِي رِيحٌ مَا جَالَسَنِي أَحَدٌ

“Seandainya dosa-dosaku memiliki bau, niscaya tidak ada seorang pun yang mau duduk bersamaku.”

Ini adalah ucapan hikmah yang sangat terkenal dari seorang ulama salaf, Muhammad bin Wasi’ Al-Azdi (rahimahullah), yang dicatat dalam kitab Siyar A’lam al-Nubala’ (6/120).

Pesan yang dapat diambil ialah agar seorang hamba menyadari kekurangan dirinya, tidak merasa lebih baik daripada orang lain, memperbanyak istigfar, dan tidak menggunakan tertutupnya aib sebagai alasan untuk meremehkan dosa.

8. Kesimpulan dan Pelajaran Penting

Dari pembahasan hadis nomor 650–652 dalam Al-Adab Al-Mufrad, terdapat sejumlah pelajaran penting.

  1. Menjaga nikmat pendengaran dan penglihatan. Keduanya harus digunakan untuk perkara yang bermanfaat dan ketaatan kepada Allah.
  2. Memohon pertolongan Allah ketika dizalimi. Seorang muslim boleh meminta keadilan, tetapi tidak boleh melampaui batas dalam membalas kezaliman.
  3. Membiasakan doa yang mencakup kebutuhan dunia dan akhirat. Doa memohon ampunan, rahmat, petunjuk, dan rezeki merupakan doa yang ringkas dengan kandungan makna yang luas.
  4. Memperbanyak istigfar dan bertobat. Dosa harus disikapi dengan penyesalan dan usaha untuk memperbaiki diri, bukan dianggap remeh.
  5. Memohon rahmat dan hidayah Allah. Manusia membutuhkan pertolongan Allah agar dapat menjalani kehidupan dengan baik dan istiqamah dalam ketaatan.
  6. Mencari rezeki halal dan bertanggung jawab terhadap keluarga. Nafkah keluarga merupakan kewajiban yang memiliki keutamaan besar.
  7. Boleh memohon umur panjang yang bermanfaat. Yang terpenting bukan semata-mata panjangnya umur, melainkan kebaikan amal selama hidup.
  8. Menjaga adab dalam interaksi sosial. Termasuk dalam hubungan antara guru dan murid, laki-laki dan perempuan, serta dalam menghadapi orang yang berbuat zalim.
  9. Berdoa kepada Allah dan tetap melakukan ikhtiar. Seorang muslim menggabungkan doa, usaha yang benar, kesabaran, dan tawakal.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada kita pendengaran dan penglihatan yang bermanfaat, mengampuni dosa-dosa kita, melimpahkan rahmat-Nya, membimbing kita di atas petunjuk, serta mengaruniakan rezeki yang halal dan berkah.

Semoga Allah juga menjadikan umur kita sebagai kesempatan untuk memperbanyak amal saleh dan mengakhiri kehidupan dalam keadaan diridai-Nya.

Wallahu a‘lam bish-shawab. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu an la ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Poster Ringkasan

****

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button