Adabul MufradKajian Rutin

Adabul Mufrad Bab 281 | Hadits 644 | Tiga Golongan yang Merugi

Bismillah

Adabul Mufrad Bab 281 | Hadits 644 | Tiga Golongan yang Merugi: Tidak Diampuni pada Bulan Ramadan, Tidak Berbakti kepada Orang Tua, dan Tidak Bershalawat kepada Nabi


Pendahuluan

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Wa bihi nasta‘īnu ‘alā umūrid-dunyā wad-dīn. Waṣ-ṣalātu was-salāmu ‘alā sayyidil-mursalīn wa imāmil-muttaqīn, nabiyyinā Muḥammadin wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi ajma‘īn.

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dalam urusan dunia dan agama. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, dan para sahabat beliau.

Jamaah yang semoga senantiasa dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, marilah kita terus bersyukur atas limpahan nikmat dan karunia-Nya. Di antara nikmat yang patut kita syukuri adalah nikmat istiqamah, sehingga sampai hari ini Allah masih memberikan semangat kepada kita untuk mendatangi masjid dan melaksanakan salat berjamaah.

Shalat berjamaah merupakan syiar Islam yang sangat agung. Kita hendaknya tidak meremehkan tuntunan Nabi ﷺ, tetapi berusaha mengamalkannya sesuai kemampuan dan tuntunan syariat.

Pada kesempatan ini, kita melanjutkan pembahasan hadis dalam kitab yang sedang dikaji. Kita memasuki Bab 281, yaitu tentang orang yang disebutkan nama Nabi Muhammad ﷺ di sisinya, tetapi tidak bershalawat kepada beliau.

Pembahasan ini mengingatkan kita kepada tiga perkara yang sangat penting: memanfaatkan bulan Ramadan untuk meraih ampunan Allah, berbakti kepada kedua orang tua, dan membiasakan diri berselawat kepada Rasulullah ﷺ.

٢٨١ – بَابُ مَنْ ذُكِرَ عِنْدَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْهِ

Bab-281: ORANG YANG NABI ﷺ DISEBUTKAN PADANYA TETAPI TIDAK BERSHALAWAT KEPADA BELIAU

📖 Hadits ke-644: “Do’a kesengsaraan dari Jibril kepada 3 golongan”

  1. ‘Abdurrahman bin Syaibah mengabarkan kepada kami, ia berkata: ‘Abdullah bin Nafi’ Ash-Sha’igh mengabarkan kepadaku dari ‘Isham bin Zaid -Ibnu Syaibah memujinya dengan kebaikan-, dari Muhammad bin Al-Munkadir:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم رَقَى الْمِنْبَرَ، فَلَمَّا رَقَى الدَّرَجَةَ الأُولَى قَالَ‏:‏ آمِينَ، ثُمَّ رَقَى الثَّانِيَةَ فَقَالَ‏:‏ آمِينَ، ثُمَّ رَقَى الثَّالِثَةَ فَقَالَ‏:‏ آمِينَ، فَقَالُوا‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، سَمِعْنَاكَ تَقُولُ‏:‏ آمِينَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏؟‏ قَالَ‏:‏ لَمَّا رَقِيتُ الدَّرَجَةَ الأُولَى جَاءَنِي جِبْرِيلُ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ‏:‏ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ، فَقُلْتُ‏:‏ آمِينَ‏.‏ ثُمَّ قَالَ‏:‏ شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلاَهُ الْجَنَّةَ، فَقُلْتُ‏:‏ آمِينَ‏.‏ ثُمَّ قَالَ‏:‏ شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ، فَقُلْتُ‏:‏ آمِينَ‏.‏

Dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa (suatu hari) Nabi naik ke mimbar. Ketika beliau menaiki tangga pertama, beliau mengucapkan, “Amin.” Kemudian beliau menaiki tangga kedua lalu mengucapkan, “Amin.” Kemudian beliau menaiki tangga ketiga lalu mengucapkan, “Amin.” Maka para Shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami mendengarmu mengucapkan ‘amin’ sebanyak tiga kali?” Beliau menjawab, “Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril mendatangiku lalu berkata, ‘Celakalah seorang hamba
yang mendapati Bulan Ramadan lalu dia keluar darinya tetapi dia tidak diampuni,’ lalu aku mengucapkan, ‘Amin.’ Kemudian Jibril berkata, ‘Celakalah seorang hamba yang sempat mendapati kedua orang tuanya atau salah satu darinya (masih hidup) tetapi keduanya tidak memasukkannya ke surga,’ lalu aku mengucapkan, ‘Amin.’ Kemudian Jibril berkata, ‘Celakalah searang hamba Aang padanga engkau disebutkan tetapi dia tidak bershalawat kepadamu,’ lalu aku mengucapkan, ‘Amin.’

Shahih lighairihi. Dalam isnad ini terdapat’Isham bin Zaid. Adz-Dzahabiy berkata: dia tidak dikenal. Hadits ini diriwayatkan juga At-Baihaqiy datam kitab Syu’obul iimaan (3622) metatui Abu Yahya Muhammad bin lsa, dari tbnul Munkadir. Hadits ini diperkuat juga oteh hadits Abu Hurairah yang akan datang pada no. (646), hadits Matik bin Al-Huwairits riwayat lbnu Hibban (409) dan hadits Ka’ab bin ‘Ujrah riwayat Al-Hakim (4/ 153).

Penjelasan Hadits:

Golongan pertama: Orang yang menjumpai Ramadan, tetapi tidak mendapatkan ampunan

Jibril menyampaikan doa kebinasaan bagi seorang hamba yang menjumpai bulan Ramadan, kemudian Ramadan berlalu sementara dosanya belum diampuni. Rasulullah ﷺ mengucapkan amin atas doa tersebut.

Bulan Ramadan merupakan kesempatan yang sangat besar bagi seorang muslim untuk memperbaiki diri. Pada bulan ini, seorang hamba memiliki kesempatan memperbanyak puasa, salat malam, membaca Al-Qur’an, bersedekah, berdoa, beristigfar, dan mengerjakan berbagai amal saleh.

Namun, sangat disayangkan apabila seseorang melewati Ramadan tanpa sungguh-sungguh bertobat dan memohon ampunan kepada Allah. Bulan yang seharusnya menjadi kesempatan untuk membersihkan dosa justru berlalu tanpa perubahan berarti dalam kehidupannya.

Allah memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri, tetapi kesempatan itu tidak dimanfaatkan. Ketika Ramadan berakhir, ia masih membawa dosa-dosa yang belum diusahakan pengampunannya.

Karena itulah, hadis ini menjadi peringatan keras. Jangan sampai kita termasuk orang yang berjumpa dengan Ramadan, tetapi keluar dari bulan tersebut tanpa memperoleh ampunan Allah.

Golongan kedua: Orang yang menjumpai orang tuanya, tetapi tidak masuk surga melalui bakti kepada mereka

Jibril juga menyampaikan doa kebinasaan bagi orang yang menjumpai kedua orang tuanya, atau salah seorang dari keduanya, tetapi tidak masuk surga melalui kesempatan tersebut.

Maksudnya bukan bahwa orang tua memiliki kekuasaan untuk memasukkan anaknya ke dalam surga. Akan tetapi, Allah menjadikan berbakti kepada orang tua sebagai salah satu jalan besar untuk mendapatkan rida-Nya dan meraih surga.

Ketika seseorang masih memiliki ayah atau ibu, terlebih ketika mereka telah lanjut usia dan membutuhkan bantuan, ia mempunyai kesempatan yang sangat berharga. Ia dapat melayani mereka, memenuhi kebutuhan mereka, berbicara dengan lembut, menjaga perasaan mereka, serta mendoakan kebaikan bagi keduanya.

Akan tetapi, ada orang yang menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Orang tuanya masih hidup, tetapi ia justru durhaka, menyakiti hati, mengabaikan kebutuhan, atau tidak peduli terhadap keadaan mereka.

Padahal, kesempatan berbakti kepada orang tua tidak selalu tersedia. Ketika mereka telah meninggal dunia, kesempatan untuk melayani secara langsung tidak dapat diulang kembali.

Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Artinya:

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.”

Sumber: Jami’ at-Tirmidzi, no. 1900 menurut penomoran yang umum digunakan. Hadis ini diriwayatkan dari Abu ad-Darda radhiyallahu ‘anhu.

Hadis tersebut menunjukkan besarnya kedudukan berbakti kepada orang tua. Dalam sebuah rumah besar, biasanya terdapat pintu utama yang menjadi akses penting untuk masuk ke dalamnya. Demikian pula, berbakti kepada orang tua merupakan salah satu jalan yang sangat penting untuk meraih surga.

Karena itu, selama ayah dan ibu masih hidup, jangan sia-siakan kesempatan untuk berbuat baik kepada mereka. Jangan sampai seseorang menyesal setelah orang tuanya meninggal dunia, sementara dahulu ia memiliki banyak kesempatan untuk membahagiakan mereka.

Golongan Ketiga: Orang yang Tidak Bershalawat Ketika Nama Nabi Disebutkan

Golongan ketiga yang disebutkan dalam hadis adalah orang yang ketika nama Rasulullah ﷺ disebutkan di sisinya, ia tidak berselawat kepada beliau.

Jibril menyampaikan doa kebinasaan bagi orang tersebut, dan Rasulullah ﷺ mengucapkan amin.

Ini merupakan peringatan agar kita tidak bersikap acuh ketika mendengar nama Nabi Muhammad ﷺ. Sebagai umat beliau, kita semestinya menghormati, mencintai, dan mengikuti tuntunan beliau.

Ketika nama beliau disebutkan, hendaknya kita mengucapkan:

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepadanya.”

Kita juga dapat mengucapkan:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad.”

Jangan sampai lisan kita terbiasa menyebut atau mendengar nama Rasulullah ﷺ, tetapi kita tidak membiasakan diri berselawat kepada beliau.

Dalam riwayat lain, orang yang tidak berselawat ketika nama Nabi ﷺ disebutkan juga mendapatkan peringatan keras. Hal ini menunjukkan bahwa berselawat merupakan amalan yang tidak patut diremehkan.

Dalil Al-Qur’an tentang perintah bershalawat

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Al-Qur’an, Surah Al-Ahzab ayat 56.

Ayat ini menjelaskan kedudukan Rasulullah ﷺ yang sangat mulia. Allah mengabarkan bahwa Dia dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi, kemudian Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat dan mengucapkan salam kepada beliau.

Ada hal istimewa dalam ayat ini. Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berselawat kepada Nabi ﷺ, sementara Allah sendiri telah mengabarkan bahwa Dia dan para malaikat-Nya berselawat kepada beliau.

Tentu saja, selawat Allah tidak sama dengan selawat manusia. Selawat Allah kepada Nabi mengandung pujian dan pemuliaan terhadap beliau, sedangkan selawat seorang muslim merupakan doa agar Allah melimpahkan selawat kepada Nabi ﷺ.

Karena itu, kita hendaknya memperbanyak selawat dengan penuh kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.

Bentuk shalawat yang diajarkan Nabi ﷺ

Di antara bentuk selawat yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah selawat Ibrahimiyah, yang dibaca dalam salat.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya:

“Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Sumber: Sahih al-Bukhari, no. 3370 menurut penomoran yang umum digunakan; lihat pula Sahih Muslim, no. 406.

Kita dapat berselawat dengan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ. Di luar salat, kita juga dapat mengucapkan selawat yang ringkas, seperti shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika nama beliau disebutkan.

Apakah bershalawat ketika nama Nabi disebutkan hukumnya wajib?

Dalam kajian ini disampaikan bahwa sebagian ulama berpendapat wajib berselawat ketika mendengar nama Rasulullah ﷺ disebutkan. Pembahasan hukum ini memang memiliki perincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Oleh karena itu, jangan mencampuradukkan anjuran memperbanyak selawat secara umum dengan pembahasan hukum berselawat pada setiap kali nama Nabi disebutkan. Yang jelas, ayat dan hadis menunjukkan keutamaan berselawat serta kerasnya peringatan bagi orang yang meremehkannya.

Keutamaan Bershalawat: Satu Shalawat Dibalas Sepuluh Kali

Setelah membahas peringatan bagi orang yang tidak berselawat, kita perlu mengetahui betapa besarnya pahala bagi orang yang membiasakan diri berselawat kepada Rasulullah ﷺ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

Artinya:

“Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.”

Sumber: Sahih Muslim, no. 408 menurut penomoran yang umum digunakan.

Perhatikan betapa besarnya karunia Allah. Ketika seorang hamba berselawat kepada Nabi ﷺ satu kali, Allah memberikan balasan berupa sepuluh kali selawat kepadanya.

Ini merupakan amalan yang mudah dilakukan. Seseorang tidak harus memiliki harta yang banyak atau kedudukan yang tinggi untuk memperbanyak selawat. Ia dapat melakukannya ketika berjalan, duduk, menunggu, atau mengisi waktu luang dengan amalan yang bermanfaat.

Tentu saja, kemudahan ini tidak berarti kita boleh mengabaikan kewajiban lain. Selawat hendaknya menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim yang tetap menjaga salat, melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, dan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

Orang yang merasa memiliki banyak dosa hendaknya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Ia perlu memperbanyak istigfar, bertobat, memperbaiki amal, dan melakukan berbagai kebaikan, termasuk memperbanyak selawat kepada Nabi ﷺ.

Peringatan Keras bagi Orang yang Menyia-nyiakan Tiga Kesempatan

Dalam pembahasan hadis berikutnya, terdapat ungkapan:

رَغِمَ أَنْفُهُ

Secara harfiah, ungkapan ini berarti “hidungnya berdebu”. Dalam penggunaan bahasa Arab, ungkapan tersebut merupakan bentuk doa atau kecaman yang menunjukkan kehinaan, kerugian, dan keadaan yang sangat buruk.

Dalam hadis, ungkapan ini digunakan untuk memberikan peringatan keras kepada orang yang menyia-nyiakan kesempatan besar yang telah Allah berikan.

Tiga kesempatan tersebut adalah:

  1. Kesempatan menjumpai Ramadan. Ia dapat memperbanyak amal saleh dan bertobat, tetapi membiarkan Ramadan berlalu tanpa berusaha mendapatkan ampunan.
  2. Kesempatan berbakti kepada orang tua. Ia masih memiliki ayah atau ibu, tetapi tidak memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbuat baik dan meraih rida Allah.
  3. Kesempatan berselawat kepada Nabi ﷺ. Ia mendengar nama Rasulullah ﷺ disebutkan, tetapi tidak membiasakan diri berselawat kepada beliau.

Ketiganya merupakan kesempatan yang sangat berharga. Ramadan tidak selalu dapat dijumpai kembali, orang tua tidak selalu hidup bersama kita, dan setiap kali nama Nabi ﷺ disebutkan merupakan kesempatan untuk menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada beliau.

Jangan sampai kita baru menyadari nilai suatu kesempatan setelah kesempatan itu hilang.

Uwais Al-Qarni: Teladan Bakti kepada Ibu

Salah satu kisah yang disampaikan dalam kajian adalah kisah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang dikenal karena baktinya kepada sang ibu.

Uwais Al-Qarni berasal dari Yaman dan hidup pada masa Rasulullah ﷺ. Ia beriman kepada Nabi, tetapi tidak bertemu langsung dengan beliau. Karena itu, ia dikenal sebagai tabi’in, bukan sahabat Nabi.

Dalam hadis sahih, Rasulullah ﷺ menyebut keutamaan Uwais Al-Qarni. Beliau mengabarkan bahwa Uwais adalah orang yang sangat berbakti kepada ibunya. Rasulullah ﷺ juga memberikan petunjuk kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu agar meminta Uwais memohonkan ampunan kepada Allah untuknya apabila berjumpa dengannya.

Kisah ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak semata-mata ditentukan oleh popularitas, banyaknya pengikut, atau kedudukannya di tengah masyarakat. Amal yang tulus dan ketaatan kepada Allah memiliki nilai yang sangat besar.

Dalam kajian tersebut, pemateri menggambarkan betapa besar pengorbanan Uwais untuk melayani ibunya. Inti pelajaran dari kisah ini adalah kesungguhan seorang anak dalam memenuhi kebutuhan orang tuanya, meskipun hal itu membutuhkan tenaga, waktu, dan pengorbanan yang tidak sedikit.

Kisah Uwais hendaknya mendorong kita untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita bersungguh-sungguh berbakti kepada ayah dan ibu? Sudahkah kita membantu mereka ketika membutuhkan? Sudahkah kita menjaga ucapan dan tidak menyakiti hati mereka?

Jangan sampai kita sibuk mengejar berbagai amal yang terlihat oleh banyak orang, tetapi melalaikan kewajiban berbakti kepada orang tua yang berada di dekat kita.

Kisah tentang Doa Seorang Ibu dan Bakti Anaknya

Pemateri juga menyampaikan sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Dalam kisah tersebut, Nabi Musa berdoa agar diperlihatkan calon teman duduknya di surga. Ia kemudian diarahkan untuk melihat seorang anak yang merawat ibunya dengan penuh kasih sayang.

Anak tersebut digambarkan bekerja, menyiapkan makanan, memilih bagian makanan yang baik, kemudian menyuapkannya kepada ibunya. Sang ibu merasa bahagia atas pelayanan anaknya dan mendoakan agar anak tersebut menjadi teman Nabi Musa di surga.

Catatan penting: Kisah ini disampaikan dalam kajian sebagai kisah Israiliyat. Pelajaran umum tentang pentingnya berbakti kepada orang tua tetap memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis sahih.

Dalil Al-Qur’an tentang berbakti kepada orang tua

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” [Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 23].

Ayat ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan perintah yang sangat agung. Bahkan, ucapan ringan yang menunjukkan kejengkelan saja dilarang ketika ditujukan kepada orang tua. Terlebih lagi, tindakan kasar, penghinaan, atau penelantaran terhadap mereka.

Allah kemudian berfirman:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

Artinya:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 24.

Ayat ini mengajarkan kita agar memperlakukan orang tua dengan kasih sayang, kerendahan hati, dan doa. Ketika mereka semakin tua dan lemah, kita hendaknya semakin sabar dalam melayani mereka.

Ridha Allah dan Bakti kepada Orang Tua

Dalam kajian juga disampaikan hadis yang populer tentang hubungan rida Allah dan rida orang tua.

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Artinya:

“Rida Rabb terdapat pada rida orang tua, dan kemurkaan Rabb terdapat pada kemurkaan orang tua.”

Sumber: Jami’ at-Tirmidzi, no. 1899 menurut penomoran yang umum digunakan. Hadis ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma.

Hadis ini menegaskan pentingnya berusaha mendapatkan rida orang tua melalui ketaatan yang dibenarkan syariat. Ketika orang tua membutuhkan bantuan, seorang anak hendaknya tidak bersikap kasar atau mengabaikan mereka.

Namun, berbakti kepada orang tua bukan berarti menaati setiap perintah mereka tanpa batas. Apabila orang tua memerintahkan kemaksiatan, seorang anak tidak boleh menaati perintah tersebut, tetapi tetap wajib memperlakukan mereka dengan baik dalam perkara yang dibenarkan syariat.

Berbakti bukan hanya memberikan uang atau memenuhi kebutuhan materi. Berbakti juga mencakup tutur kata yang baik, kesediaan mendengarkan, membantu pekerjaan mereka, mendampingi ketika sakit, serta mendoakan kebaikan bagi keduanya.

Jangan Berputus Asa terhadap Masa Depan Anak

Dalam kajian ini juga diingatkan agar orang tua tidak terlalu pesimis ketika anak memiliki prestasi akademik yang kurang baik. Nilai sekolah bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seseorang dalam menjalani kehidupan.

Anak yang nilai akademiknya biasa saja masih memiliki kesempatan untuk berkembang, bekerja dengan baik, menjadi pribadi yang amanah, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Tentu saja, pendidikan tetap penting. Orang tua perlu membimbing anak agar rajin belajar, memiliki akhlak yang baik, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Akan tetapi, orang tua juga perlu menyadari bahwa rezeki dan hasil akhir kehidupan berada di tangan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” Al-Qur’an, Surah Adz-Dzariyat ayat 58.

Karena itu, tugas orang tua adalah memberikan pendidikan, membekali anak dengan ilmu yang bermanfaat, menanamkan akhlak, memberikan nasihat, menyemangati, dan mendoakan kebaikan bagi mereka. Adapun hasil akhirnya, kita serahkan kepada Allah dengan tetap berusaha dan bertawakal.

Jangan sampai orang tua justru mendoakan keburukan bagi anaknya ketika sedang marah. Hendaknya lisan digunakan untuk mendoakan hidayah, kebaikan, dan keselamatan bagi anak-anak kita.

Kandungan Hadits

Dari keseluruhan pembahasan, terdapat sejumlah pelajaran yang dapat kita ambil:

  1. Jangan menyia-nyiakan Ramadan. Manfaatkan bulan tersebut untuk bertobat, memperbanyak ibadah, dan memohon ampunan Allah.
  2. Berbaktilah kepada kedua orang tua. Selama mereka masih hidup, gunakan kesempatan tersebut untuk melayani, membahagiakan, dan mendoakan mereka.
  3. Jangan meremehkan shalawat. Biasakan bershalawat ketika nama Rasulullah ﷺ disebutkan dan perbanyaklah selawat dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Jangan mengukur kemuliaan hanya dari popularitas. Keikhlasan, ketakwaan, dan amal saleh merupakan perkara yang sangat penting di sisi Allah.
  5. Didiklah anak dengan ilmu, doa, dan keteladanan. Jangan mudah berputus asa terhadap masa depan mereka, tetapi teruslah membimbing dan mendoakan kebaikan.
  6. Jaga lisan ketika marah. Terutama kepada orang tua dan anak-anak, hindari ucapan yang menyakiti serta doa yang buruk.
  7. Manfaatkan kesempatan sebelum hilang. Ramadan akan berlalu, orang tua akan meninggal dunia, dan kesempatan beramal tidak selalu datang kembali.

Penutup

Jamaah yang semoga dirahmati Allah, tiga perkara yang dibahas dalam hadis ini hendaknya menjadi bahan introspeksi bagi kita semua. Jangan sampai kita termasuk orang yang menjumpai Ramadan, tetapi tidak memperoleh ampunan; menjumpai orang tua, tetapi tidak memanfaatkan kesempatan berbakti; atau mendengar nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi enggan bershalawat kepada beliau.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk memperbaiki ibadah, berbakti kepada kedua orang tua, memperbanyak selawat kepada Rasulullah ﷺ, serta istiqamah di atas ketaatan hingga akhir hayat.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, merahmati kedua orang tua kita, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya dengan rahmat-Nya. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button